Laman

Selasa, 11 Mei 2010

PROSES KEPERAWATAN OBAT ANALGESIK

ANALGESIK



  • Analgesik adalah obat penghilang rasa sakit atau nyeri, seperti sakit kepala atau sendi.
  • Analgesik ialah istilah yang digunakan untuk mewakili sekelompok obat yang digunakan sebagai penahan sakit.
  • Analgesik : obat yang mengurangi/bahkan mungkin menghilangkan rasa sakit tanpa diikuti hilangnya kesadaran.




Analgesik narkotik bekerja terutama pada sistem saraf pusat

Sedangkan analgesik non narkotik bekerja pada sistem saraf tepi pada tempat reseptor nyeri.



Obat-obatan analgesik mempunyai efek antipiretik, yakni mampu menstabilkan suhu tubuh dan meredakan demam.

Obat analgesik termasuk obat antiradang non-steroid (NSAID) seperti salisilat, obat narkotika seperti morfin dan obat sintesis bersifat narkotik seperti tramadol.



Obat analgesik antipiretik serta obat Anti Inflamasi Non Steroid (AINS) merupakan suatu kelompok obat yang heterogen, bahkan beberapa obat sangat berbeda secara kimiawi.Walaupun demikian obat-obat ini ternyata memiliki banyak persamaan dalam efek terapi maupun efek samping. Prototip obat golonganini adalah Aspirin, karena itu obat golongan ini sering disebut juga sebagai obat mirip aspirin ( aspirin-like drugs).



ASETAMINOFEN

Farmakodinamik :

Efek Analgesik parasetamol dan fenasetin serupa dengan salisilat mengurangi nyeri,dari nyeri ringan sampai sedang dengan menghambat biosintesis PG tapi lemah

Efek Antipiretik, menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga juga berdasarkan efek sentral seperti salisilat

Efek Anti Inflamasinya sangat lemah/tidak ada, tidak digunakan sebagai anti-inflamasi



Farmakokinetik :

Diabsorpsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna.

Efek iritasi , erosi dan perdarahan lambung tidak terlihat pada kedua obat ini.



Indikasi :

Digunakan sebagai analgesik

Digunakan sebagai antipiretik





Efek samping :

Reaksi alergi terhadap derivat Para- aminofenol jarang terjadi



Toksisitas akut :

Dosis toksis yang paling serius ialah nekrosis hati

Nekrosis tubuli renalis serta koma hipoglikemik dapat terjadi

Hepatotoksisitas dapat terjadi pada pemberian dosis tunggal 10 - 15 gram ( 200 - 250 mg/kgBB ) Parasetamol



DIPIRON

Farmakodinamik:

  • Efek analgesik
  • Efek antipiretik
  • Efek anti-inflamasinya lemah
  • Diabsorpsi dengan baik oleh saluran cerna
  • Farmakokinetik : Indikasi :
  • Hanya digunakan sebagai analgesik-antipiretik
  • Efek Anti-inflamasinya lemah
Efek samping :

Semua derivat Pirazolon dapat menyebabkan -agranulositosis -anemia aplastik -trombositopeni -menimbulkan hemolisis -udem, tremor, mual dan muntah, perdarahan lambung -alergi





SALISILAT DAN OBAT-OBAT ANTI INFLAMASI NON STEROID





FARMAKODINAMIK :

  • Efek Analgesik, aspirin paling efektif untuk mengurangi nyeri dengan intensitas ringan sampai sedang
  • Efek Antipiretik, aspirin menurunkan suhu yang meningkat, sedangkan suhu badan normal hanya berpengaruh sedikit
  • Efek Anti Inflamasi, aspirin adalah penghambat non selektif kedua isoform COX ( Cyclooxygenase ) atau ( COX-I dan COX-II )
  • Efek Platelet, aspirin mempengaruhi hemostasis. Dosis rendah tunggal aspirin( 80 mg sehari ) menyebabkan sedikit perpanjangan waktu perdarahan


FARMAKOKINETIK :

Salisilat dengan cepat diserap oleh lambung dan usus kecil bagian atas

Asam salisilat diabsorpsi cepat dari kulit sehat terutama bila digunakan sebagai obat gosok atau salep

Salisilat di distribusikan keseluruh jaringan mudah menembus sawar darah otak dan sawar uri



Indikasi :

  1. Sebagai obat Analgesik
  2. Sebagai obat Antipiretik
  3. Untuk terapi Demam reumatik akut
  4. Untuk terapi Artritis reumatoid
  5. Mencegah trombus koroner, dosis aspirin kecil(325mg/ha ri) yang diminum tiap hari dapat mengurangi insiden infark miokard akut
  6. Sebagai counter irritant bagi kulit, bentuk salep atau lini ment


Efek samping :

tukak lambung atau tukak peptik -perdarahan lambung -anemia sekunder akibat perdarahan saluran cerna -beratnya efek samping ini berbeda pada masing masing obat

Dosis yang berlebihan dapat menyebabkan telinga berdenging, tuli, penglihatan kabur, bahkan kematian.



Asam mefenamat

Asam mefenamat termasuk obat pereda nyeri yang digolongkan sebagai NSAID (Non Steroidal Antiinflammatory Drugs). Asam mefenamat digunakan untuk mengatasi berbagai jenis rasa nyeri, namun lebih sering diresepkan untuk mengatasi sakit gigi, nyeri otot, nyeri sendi dan sakit ketika atau menjelang haid. Seperti juga obat lain, asam mefenamat dapat menyebabkan efek samping.



Salah satu efek samping asam mefenamat yang paling menonjol adalah merangsang dan merusak lambung. Sebab itu, asam mefenamat sebaiknya tidak diberikan pada pasien yang mengidap gangguan lambung.



PROSES KEPERAWATAN: NSAID

PENGKAJIAN



  • Periksa riwayat klien akan adanya alergi terhadap NSAID,termasuk aspirin.Jika terdapat alergi,beritahu perawat atau dokter yg bertanggungjawab.
  • Kaji klien terhadap adanya rasa tidak enak pd gastrointestinal dan edema perifer, ke-2 nya merupakan efek samping yang serimg pd NSAID.
  • Jika aspirin dipakai untuk dismenore selama dua hari pertama menstruasi, mungkin terjadi pendarahan yang lebih banyak.
INTERVENSI KEPERAWATAN

Pantau klien akan adanya feses berwarna seperti terjadi perdarahan gusi, petekie dan ekimosis.

Waktu perdarahan dpt diperpanjang jika memakai NSAID.

Periksa adanya perubahan dlm hasil laboratorium darah jika klien memakai NSAID dr kelompok pirazolon dan terapi obat emas.



Aspirin tidak boleh dipakai dan merupakan kontraindikasi bagi anakyang mengalami demam dan berusia dibawah 12 tahun, apapun sebabnya, karena adanya bahaya sindroma Reiter (problem neurologis yang berhubungan dengan infeksi virus dan diobati dengan salisilat).







PENYULUHAN PADA KLIEN




  1. Penyuluhan pd klien untuk tidak memakai aspirin bersama NSAID lain,dan jika sedang memakai obat NSAID,jangan memakai aspirin.
  2. Beritahu klien untuk memakai NSAID,termasuk aspirin bersama makan untuk mengurangi rasa tidak enak pd gastrointestinal.
  3. Bertahu klien untuk menghindari alkohol sewaktu memakai NSAID.
  4. Nasehatkan wanita untuk tidak memakai NSAID 1-2 hari sebelum menstruasi untuk menghindari banyaknya aliran darah.
  5. Nasehatkan wanita dlm kehamilan trimester ke-3 untuk menghindari NSAID,jika terjadi persalinan,mungkin mengalami komplikasi perdarahan.


OBAT PIRAI

Pirai(Gout) : penyakit metabolisme familial yang dikarakterisasi oleh episode berulang artritis akut yang disebabkan oleh endapan monosodium urat pada sendi-sendi dan tulang rawan.

Tinjauan Umum : Pirai biasanya dikaitkan dengan kadar serum yang tinggi dari asam urat, zat yang sulit larut yang merupakan hasil akhir utama dari metabolisme purin.

Pengobatan pirai ditujukan pada pengurangan serangan akut dan mencegah kambuhnya episode pirai dan batu urat.



PROSES KEPERAWATAN : OBAT2 ANTI PIRAI

Pengkajian

Dapatkan riwayat medis dr klien dengan g3

lambun.ginjal,jantung atau hati



Perencanaan

Klien akan terbebas dr neri gout tanpa mengalami efek samping

Beri tahu klien untuk melaporkan setiap keluhan pd lambung

Anjurkan klien untuk patuh pd jadwal kunjungan dokter dan melakukan pemeriksaan darah dg teratur.



Evaluasi

Evaluasi respon klien terhadap obat anti gout,jk nyeri ttp regimen obat mungkin perlu di ubah





ANALGESIK NARKOTIK

  1. Analgesik narkotik, disebut juga agonis narkotik, diresepkan untuk mengatasi nyeri yang sedang sampai berat.
  2. Narkotik tidak hanya menekan rangsang nyeri tetapi juga menekan pernafasan dan batuk dengan bekerja pada pusat pernafasan dan batuk pada medulla di batang otak. Salah satu contoh dari narkotik adalah morfin, yang merupakan analgesik kuat yang dapat dengan cepat menekan pernafasan.
  3. Kodein tidak sekuat morfin, tetapi dapat meredakan nyeri yang ringan sampai sedang dan menekan batuk. Kodein juga dapat diklasifikasikan ebagai penekan batuk (antitusif).


EFEK SAMPING DAN REAKSI YANG MERUGIKAN

  • Tanda-tanda depresi pernafasan (pernafasan <10/>
  • Hipotensi ortostatik (turunnya tekanan darah ketika bangun dari posisi duduk atau berbaring)
  • takikardia
  • mengantuk dan mental berkabut
  • konstipasi, dan retensi urin.
  • konstriksi pupil (suatu tanda intoksikasi)
  • toleransi, dan ketergantungan psikologis serta fisik dapat terjadi pada penggunaan jangka panjang.


Gejala-gejala putus obat (disebut sebagai sindroma abstinensi) biasanya terjadi dalam waktu 24-48 jam setelah pemakaian narkotik terakhir.

Ketergantungan fisik, iritabilitas, diaforesis (berkeringat), gelisah, kedutan otot, serta meningkatnya denyut jantung dan tekanan darah adalah contoh-contoh dari gejala-gejala putus obat.

KONTRAINDIKASI

Pemakaian analgesik narkotik adalah kontraindikasi bagi pasien dengan cidera kepala. Narkotik memperlambat pernafasan, sehingga mengakibatkan penumpukan CO2. Dengan bertambahnya retensi CO2, pembuluh darah berdilatasi (vasodilatasi), terutama pembuluh darah otak, yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial.



Analgesik narkotik yang diberikan kepada klien dengan gangguan pernafasan hanya akan mengakibatkan bertambah beratnya distres pernafasan. Pada penderita asma, opioid dapat merelaksasikan atau malah mengkonstriksikan saluran bronkus.



Narkotik dapat menyebabkan hipotensi dan tidak merupakan indikasi bagi klien yang syok atau mereka yang mempunyai tekanan darah yang sangat rendah. Jika diperlukan pemakaian narkotik, dosis perlu disesuaikan, kalau tidak keadaan hipotensi akan semakin memburuk. Bagi orang lanjut usia atau orang yang debil, dosis narkotik biasanya perlu dikurangi.



PROSES KEPERAWATAN ANALGESIK NARKOTIK

Pengkajian



Intervensi Keperawatan

Berikan narkotik sebelum nyeri mencapai puncaknya untuk memaksimalkan efektifitas obat.

Amati klien untuk efek samping dari narkotik, termasuk distres pernafasan (pernafasan <10/menit),>
  • Pantau tanda-tanda vital dengan interval cukup sering untuk mendeteksi perubahan pernafasan. Laju pernafasan akan berubah dalam 7-8 menit setelah pemberian intravena, 30 menit setelah injeksi intramuskular, dan sekitar 90 menit setelah injeksi subkutan. Periksa laju pernafasan sebelum memberikan narkotik.
  • Pantau keluaran urin klien. Narkotik dapat menyebabkan retensi urin. Keluaran urin harus sekurang-kurangnya 600 ml/hari.
    • Periksa bising usus untuk mengetahui apakah terjadi penurunan peristaltik, suatu sebab dari konstipasi. Laksatif ringan atau perubahan diet mungkin diperlukan.
    • Periksa klien lanjut usia terhadap efek samping dari narkotik. Dosis mungkin perlu disesuaikan. Tirali tepi tempat tidur dan tindakan pencegahan lainnya mungkin perlu dilakukan.
    • Penyuluhan Kepada Klien
    • Beritahu klien untuk tidak minum alkohol atau penekan SSp dengan setiap analgesik karena bertambahnya depresi SSP dan pernafasan.
    • Anjurkan klien untuk mencari pertolongan profesinal dalam mengurangi adiksi narkotik. Beritahu klien mengenai program pengobatan metadon dan sumber lainnya di daerah saudara.
    • Peringati klien bahwa pemakaian narkotik yang terus menerus dapat menimbulkan adiksi.
    • Sebelum menjalani pembedahan besar, klien biasanya memerlukan narkotik selama 2-3 hari. Obat, dosis, dan interval dosis berubah-ubah sesuai dengan keperluan klien. Tindakan nonfarmakologik untuk meredakan nyeri mungkin membantu, seperti mengubah posisi, menggosok punggung, dan ambulasi. Jika nyeri menetap, pengobatan mungkin perlu diubah berdasrkan penilaian nyeri.


    • Beritahu klien untuk melaporkan jika mengalami pusing atau sulit bernafasa ketika memakai narkotik. Pusing dapat disebabkan oleh hipotensi ortostatik. Nasehatkan klien untuk berjalan dengan hati-hati atau hanya dengan bantuan.
    • Beritahu klien untuk melaporkan jika mengalami konstipasi dan retensi urin.
    • Evaluasi
    • Evaluasi efektifitas dari analgesik narkotik dalam mengurangi atau meredakan nyeri. Jika nyeri menetap setelah beberapa hari, sebab harus ditentukan atau narkotik perlu diganti.
    • Evaluasi stabilitas tanda-tanda vital. Tanda-tanda abnormal, seperti penurunan tekanan darah harus dilaporkan.

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar